Rabu, 27 Oktober 2010

ZaInuDin MZ pendakwah Betawi

Memang terlalu menjadi Onani jika saya menulis ini di blog ranny...karena terdenagr membela etnis sendiri...hi..hi...tapi tak apalah karena memang nyatanya darah betawi saya kental dan mempunyai kebanggaan yang patut di share.....


ditengah hebohnya gosip pelecehan seksual Dai sejuta umat Zainuddin MZ yang melejit namanya di awal tahun 80 - 90an lewat gaya khasnya "bu...bu...denger ngga bu ?...." dan semua calon jamaah haji 2010 non plus disibukkan komplain karena fasilitas pondokkan haji yg jauh dari masjidil haram....seharusnya bagi saya mereka patut besyukur...karena terbang dengan pesawat hanya 10jam ke Jeddah...karena bayangkan beberapa puluh tahun silam...

Perjalanan masih menggunakan kapal layar, dibutuhkan  waktu berbulan-bulan, mungkin lebih setahun, dengan berbagai resiko selama pelayaran. sejak abad ke-18 orang Betawi banyak yang pergi ke kota suci Mekah, banyak yang tidak kembali ke tanah air dan bermukim di Mekah. Mereka yang bermukim di sana menggunakan Al Batawi sebagai nama keluarga. ada pertengahan abad ke-19 (1834), Syech Junaid, seorang ulama Betawi, mulai bermukim di Mekah. Ia pun memakai nama al-Betawi. Ia amat termashur karena menjadi imam di Masjidil Haram. Syech Junaid al Betawi, yang diakui sebagai syaikhul masyaikh para ulama mashab Syafi'ie, juga mengajar agama di serambi Masjidil Haram. Muridnya banyak sekali. Bukan hanya para mukiman dari Indonesia, juga mancanegara. Nama Betawi menjadi termashur di tanah suci berkat Syech kelahiran Pekojan, Jakarta Barat, ini. 
Di antara murid Syeh Junaid yang sampai kini kitab-kitabnya masih tersebar di dunia Islam adalah Syech Nawawi al Bantani, keturunan pendiri kerajaan Islam Banten, Maulana Hasanuddin (putera Syarif Hidayatullah).  KH Abdullah Syafi'ie dari perguruan Assyafiiyah dan KH Tohir Rohili dari perguruan Tohiriah di Bukitduri Tanjakan, Jakarta Timur. Kedua perguruan Islam (Assyafiiyah dan Tahiriah) itu kini berkembamng pesat sekali. Keduanya memiliki sekolah mulai dari TK sampai perguruan tinggi. KH Abdullah Syafi'ie adalah figur yang mampu mengkombinasikan dua arus besar pemikiran yang berkembang di lingkungan masyarakat Islam. Dalam diri beliau tercermin betul warna NU dan Muhammadiyah-an. Toh beliau mampu menjadikan diri sebagai model kombinasi yang menarik itu.

Kalau KH Abdullah Sjafii pada Pemilu 1955 berkampanye untuk partai Masyumi. 

Begitu bangganya saya dengan darah betawi yang kental...meski saya bukan seorang yang sangat religius...dan hari ini kesempatan saya bertemu dengan salah satu anak KH. Abdullah Syafiie untuk menginterview Hj. Tuti Alawiyah mengingat profesi saya Kuli tinta atau jurnalis